MATERI PROVIDING MATERIALS OUTDOORS

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Susanna Miliar et al; Garvey; Rubin; Fein; dan Vendenberg (dalam Rahardjo, 2007) mengungkapkan adanya beberapa ciri kegiatan permainan, yaitu :

a.       Dilakukan berdasarkan motivasi instrinstik, maksudnya muncul atas keinginan pribadi serta untuk kepentingan sendiri.

b.      Perasaan dari orang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi positif.

c.       Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktifitas ke aktivitas lain.

d.      Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhirnya. e) Bebas memilih, ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain pada anak kecil

e.       Mempunyai kualitas pura-pura. Kegiatan bermain mempunyai kerangka tertentu yang memisahkan dari kehidupan nyata sehari-hari

Terdapat dua alasan mengapa bermain outdoor penting untuk anak-anak usia diri. Pertama, banyak kemampuan anak yang harus didapat dan dikembangkan. Kedua, dengan bermain outdoor anak usia dini dapat mengembangkan kecerdasan sosial dan emosionalnya, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja, dengan bermain outdoor bersama, kecerdasan sosial dan emosionalnya akan berkembang. Bermain adalah hal yang sangat alamiah bagi anak-anak, hampir seperti makan, minum dan tidur. Merasa melalui sentuhan, bergembira, tertawa, berteriak adalah bagian dari kehidupan anak-anak ketika mereka masuk dalam sebuah bingkai permainan, artinya bermain akan membantu anak menjadi individu yang lebih baik serta memiliki efek positif bagi perkembangan jiwa anak. Ada beberapa hal mengapa anak perlu bermain yaitu:

1.      Melalui bermainan anak mendapatkan pengalaman langsung guna memperoleh dasar kehidupan sosial.

2.      Anak perlu belajar memahami dan memainkan peran-peran di sekitarnya.

3.      Anak perlu melepaskan desakan emosi secara tepat.

4.      Anak perlu menyegarkan diri dari rutinitas hidup sehari-hari.

5.      Anak merasa punya harga diri karena merasa mampu menguasai tubuh, gerakan dan keterampilan sosial.

6.      Melalui bermain anak belajar tahu dan menyelesaikan masalah.

7.      Anak perlu berinteraksi untuk mengkreasikan pengetahuan mereka.

8.      Anak punya energi lebih yang harus disalurkan. (Musfiroh, 2008)

Kepatuhan terhadap agama dapat dilihat dari besarnya minat anak yang menghabiskan waktunya untuk kegiatan agama. Minat ini akan bertahan bila disukai oleh anak selama kegiatan ini masih baru dan merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi anak serta memberikan pengalaman berharga bagi mereka. Kemudian minat anak pada doa mengikuti pola yang sama seperti pola kegiatan keagamaan lainnya. Anak yang berusia di bawah 8 tahun merasa bahwa berdoa merupakan cara berbicara dengan Tuhan. Mereka yakin Tuhan akan menjawab doa dengan mengatakan bagaimana cara menjadi baik. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain dapat menanamkan nilai agama pada anak, dimana anak dibiasakan untuk mendengar, melakukan, dan mengerti sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangannya.

 

Komentar